Minggu, 03 Oktober 2021

KEADILAN DAN PERDAMAIAN DALAM KELUARGA. BAHAN ALKITAB : YESAYA 57 : 21; MATIUS 5 : 9

 


 

 

Kompetensi Dasar:

 

 

1.4   Mengakui peran keluarga dan sekolah sebagai  lembaga  pendidikan  utama dalam kehidupan  masa kini.


2.4   Bersikap kritis dalam menyikapi peran keluarga dan sekolah sebagai lembaga pendidikan utama dalam kehidupan  masa kini.

3.4   Memahami peran keluarga dan sekolah sebagai lembaga pendidikan utama dalam kehidupan  masa kini.

4.4   Membuat proyek yang berkaitan dengan peran keluarga dan sekolah sebagai lembaga pendidikan utama dalam kehidupan  masa kini.

  

A. Pengantar

 

Keadilan dan  perdamaian sangat  dibutuhkan bagi banyak bangsa  di dunia. Selain untuk  membentuk suatu  tatanan dunia  yang  harmonis, UNESCO  telah mewajibkan  pada  banyak  negara  anggota PBB untuk  melakukan  pendidikan perdamaian bagi lembaga  pendidikan.  Oleh karena itu, budaya  damai ini harus diwujudkan melalui lembaga pendidikan, tidak terkecuali juga pendidikan dalam keluarga.

Dalam konteks berbangsa dan  bernegara, kita sering menjumpai  terjadinya sikap ketidakadilan sehingga  banyak menimbulkan konflik, perkelahian, perselisihan  antarsuku,  agama,  ras dan  antargolongan (SARA),  sehingga  telah

menimbulkan  banyak  korban.  Dalam  konteks  komunitas   juga  ketidakadilan dan  sikap pilih kasih banyak menimbulkan sikap iri hati dan  konflik yang sulit didamaikan.

Dalam konteks keluarga sering sikap yang egois, mau menang sendiri, tidak bertanggung jawab dan kurangnya  kasih menyebabkan timbulnya  perselisihan dan konflik antara suami-isteri, ataupun orang tua dengan anaknya yang berujung pada   perceraian   dan  timbulnya   kekerasan  dalam  keluarga.  Dalam  keluarga juga  sering  kita jumpai  adanya  relasi yang  tidak  harmonis, saling  membenci, dan  tidak  mau  bertolong-tolongan. Sebetulnya  dalam  skala kecil konflik juga dapat   menimbulkan  dampak   positif.  Misalnya  karena   konflik  kita  menjadi lebih  memahami orang  lain, berusaha   mengelola   konflik yang  ada,  menjadi lebih jelas terhadap permasalahan yang sedang  dihadapi.  Namun konflik yang berkepanjangan dan dalam skala yang berat, konflik bisa menimbulkan dampak yang destruktif  atau  menghancurkan, karena  tidak pernah  diupayakan  adanya usaha perdamaian.

 

 

B. Uraian Materi

 

1. Kebutuhan Terhadap Keadilan dan Perdamaian

 

Dalam bahasa Yunani (bahasa asli Alkitab Perjanjian Baru), istilah yang dipakai untuk keadilan adalah dikaiosune (Newman, 2002:4). Istilah ini meliputi beberapa arti, yakni adil, tulus, benar, dan  tidak  salah. Sementara,  dalam  bahasa  Ibrani (bahasa  asli Alkitab Perjanjian Lama), istilah yang dipakai adalah  misypat yang berarti hukum atau keputusan dan tsedaqa  yang berarti kebenaran (Beaker dan Sitompul, 1997:40, 51). Secara hakiki, adil pada  diri sendiri adalah  sesuatu  yang harus dipenuhi sebagai kewajiban yang telah menjadi haknya dalam hubungannya dengan hidup. Itu berarti,  adil adalah:  sesuai  dengan haknya, tidak lebih dan tidak  kurang. Keadilan harus  dihubungkan dengan kemanusiaan,  yakni wajib memenuhi kepentingan sendiri sekaligus kepentingan orang lain sebagai sesama. Oleh sebab  itu, keadilan harus selalu memerhatikan kepentingan dari dua pihak yang berlainan,  tidak hanya  satu  pihak. Apabila keadilan  hanya  memerhatikan kepentingan sepihak, kehidupan  bersama  dapat  dipastikan  tidak akan damai, bahkan semakin rapuh. Keadilan sesungguhnya mempunyai perspektif mengatur dan menertibkan kehidupan  seseorang  (2 Sam. 15:4; Maz. 82:3). Dalam keadilan termaktub kewajiban untuk peduli bagi kepentingan pihak lain secara individual ataupun kolektif (Hak. 5:11), agar komunitas menjadi damai.

Keadilan yang dihubungkan dengan keluarga memiliki potensi pengembangan yang sangat  besar. Karena di dalam keluarga seseorang  menjadi apa yang telah diajarkan  dan  dibentuk  dalam  keluarganya.  Jika seseorang  diajarkan  tentang keadilan  dalam  keluarga, maka orang  tersebut akan membawa pribadi  adil ke

luar di masyarakat. Sikap atau tindakan  yang dianggap adil adalah  penyerahan diri secara total kepada  Tuhan Allah. Dalam hal ini, keadilan selalu berimplikasi pada beberapa prinsip, yakni: kesejahteraan, kecukupan, kesetaraan, personalitas dan  persaudaraan. Untuk melaksanakan  prinsip-prinsip  tersebut, keadilan  juga memerlukan  kasih. Seringkali keadilan  berkaitan  erat, bahkan  dapat  menjadi realita  sebab-akibat terhadap timbulnya  perdamaian.  Bila dalam  persekutuan terdapat ketidakadilan, maka akibatnya seringkali sulit diadakan perdamaian.

 

 

2. Meneladani Tuhan Yesus

 

Apakah kita sudah  menjadi  pembawa damai, sahabat  bagi  dunia, memiliki sikap kehidupan  sebagai  orang  Kristen, yang identik dengan kasih dan damai? Tentu seharusnya demikian kehidupan  kita sebagai orang Kristen.

Sebelum  kita berdamai  dengan keluarga  dan  lingkungan,  seharusnya  lebih dulu kita harus berdamai  dengan Tuhan dan  kehendaknya.  Inilah dasar utama kehidupan  Kristiani. Usahakan dan upayakanlah  pola hidup anda adil dan damai dengan  meneladani keadilan   dan   perdamaian  Tuhan.  Bagaimana   caranya? Dengan  cara  membuat pola  hidup  berkomunikasi  dengan Tuhan setiap  hari melalui pembacaan firman dan doa.

Dalam kitab Nabi Mikha 5:4 dikatakan bahwa “Dia menjadi  damai sejahtera. Pada umumnya para penafsir mengungkapkan bahwa ayat itu menunjuk kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai Raja Damai. Dia adalah damai sejahtera  itu sendiri, yang menjadi  pedoman kehidupan  kita. Kehadiran Kristus dalam kelahiran dan kematian  dan  kebangkitannya adalah  cara  Allah yang  merendahkan diri dan menjadi  manusia  untuk  berdamai  dengan kita manusia  yang  berdosa.  Kristus adalah  Allah Sang Kasih  yang  mendamaikan kita dengan Allah, serta  menjadi contoh perdamaian antara kita dan sesama, bahkan dengan lingkungan.

Salah  satu  contoh  tentang  perdamaian yang  dilakukan  oleh  Tuhan Yesus Kristus adalah percakapan Tuhan Yesus dengan seorang  perempuan Samaria, di sumur Yakub (Yoh. 4:9-18). Pada ayat tersebut kita menemukan bagaimana Tuhan Yesus, sebagai  seorang  Yahudi, sedang  menjadi  “jembatan pendamai dengan orang  Samaria, di mana  sebelumnya kedua  bangsa  ini, bermusuhan dan  tidak berkomunikasi satu dengan yang lainnya.

Sebenarnya,   apa   yang   diperlihatkan   Tuhan  Yesus  dalam   kisah  di  atas, merupakan sebuah teladan yang harus dilakukan dalam kehidupan orang Kristen. Terutama kaum remaja yang sering sensitif, gampang tersinggung, dan mudah terlibat  konflik. Tuhan Yesus memberikan  teladan  bahwa  sebagai  orang  Kristen harus menjadi pembawa damai bagi dunia. Salah satu tes yang bisa kita lakukan misalnya adalah  ketika kita hadir di suatu  tempat. Pada saat kita hadir, apakah

kehadiran  kita disukai oleh orang-orang di sekitar kita? Adakah kehadiran  kita sudah  ditunggu-tunggu dan  sangat  diharapkan?  Jika kehadiran  kita diterima atau ditunggu-tunggu, mungkin kita sudah membawa dampak yang positif bagi lingkungan itu, atau setidaknya membawa damai di lingkungan.

Tahukah kamu, bahwa lingkungan membutuhkan damai? Sudahkah kita menjadi pembawa damai bagi lingkungan kita? Sudahkah kita sungguh-sungguh berdamai dengan Allah dan berdamai dengan sesama? Hal ini pernah dibuktikan oleh salah seorang peneliti tentang dampak suasana damai. Suatu ketika, ada dua kelompok ayam betina. Kelompok pertama  selalu diperdengarkan musik rohani setiap hari. Kelompok kedua, selalu diperdengarkan musik rock yang keras. Satu bulan  kemudian,  ketika tiba masa bertelur, ditemukan  bahwa  kelompok  ayam pertama  bertelur  jauh lebih banyak dari kelompok kedua. Hal ini membuktikan bahwa ayam saja, membutuhkan kedamaian, apalagi manusia.

 

 

3. Perdamaian dalam Keluarga

 

Kata perdamaian berasal dari kata damai yang bisa berubah konsepsi sesuai waktu  dan  budaya.  Dalam  masyarakat  luas,  orang-orang  memahami  istilah damai dan implikasi-implikasinya melalui berbagai  pandangan. Banyak orang, dan  mungkin  juga  diri kita sendiri, memahami perdamaian secara  sederhana sebagai  suatu  situasi/keadaan di mana tidak ada konflik atau tidak ada perang. Namun kenyataannya tidak sesederhana itu, konsep damai ini sebenarnya memiliki dua pemahaman yaitu negative dan positive. Pemahaman damai yang negatif  ini kita  menilai  apakah  sebuah   situasi/keadaan bisa  disebut   sebagai situasi/keadaan damai atau tidak, dengan cara melihat ada atau tidaknya hal yang biasanya mengancam dan menghancurkan perdamaian,  yaitu ketidakadilan dan konflik atau, dalam skala yang lebih luas adalah perang. Sedangkan pemahaman damai yang positif, kita bisa menilainya lewat situasi/keadaan, tidak sekedar hanya dengan melihat ada perang  atau konflik terbuka  atau tidak, melainkan dengan melihat adakah hal-hal yang mendukung terciptanya perdamaian atau tidak.

Dalam pemahaman semacam  ini, yang  kita cermati  adalah  apakah  orang- orang dalam keluarga tersebut sudah berusaha  menghapuskan berbagai  bentuk kekerasan dan ketidakadilan, baik individual maupun dalam struktural keluarga. Dengan  demikian juga sebaliknya, apakah  orang-orang tersebut sudah  dengan sengaja menciptakan hal-hal yang bisa menjamin kelanggengan perdamaian dan keadilan terhadap masing-masing anggota keluarga, antara bapak dan ibu serta antara orang tua dan anak-anak di dalam satu rumah.


4. Masalah yang Dihadapi Kaum Muda

 

Philip Tangdilingtin (dalam Sugiyo, 2001) mengungkapkan ada empat masalah pokok yang dihadapi kaum muda pada umumnya, yaitu masalah dalam keluarga, masyarakat, gereja, dan diri kaum muda sendiri. Mengidentifikasi masalah merupakan  langkah yang bijak untuk dapat  mengatasi dan menanggulanginya. Yang perlu diketahui dan dilakukan bahwa setiap masalah kaum muda merupakan tanggung jawab kaum muda  itu sendiri untuk mengatasinya. Orang lain hanya dapat  memberikan  bantuan atau pendampingan. Dengan kata lain kaum muda harus  melatih/mendidik diri sendiri  untuk  mengatasi masalah  secara  mandiri. Jika memang tidak mampu, barulah minta tolong  kepada  orang lain khususnya pada orang tua. Terutama hal-hal yang berkaitan dengan masalah-masalah ketidakadilan, sehingga menimbulkan keadaan yang tidak damai.

Dalam hubungan dengan keluarga  ada  kesenjangan atau  jarak antara  nilai dan norma yang berakibat membawa pada konflik antara kaum muda dan orang tua. Kurangnya perhatian dan pengertian dari orang  tua, menurunnya wibawa orang  tua  karena  pengaruh teknologi  komunikasi, posisi anak dalam  keluarga (bungsu, sulung); semua itu dapat  membawa akibat bahwa kaum muda kurang merasa damai, aman, dan terlindungi. Lalu mereka tidak nyaman tinggal di rumah, dan  sering berada  di luar rumah, serta  kehilangan  kesempatan dan  tantangan untuk berkembang secara utuh. Kaum muda sering terjalin dalam struktur sosial tanpa  mereka sadari, yang sering menguasai  dan memanipulasi  hidup  mereka. Akibatnya terjadilah sikap apatis, frustrasi, dan tidak aman, lebih-lebih saat remaja berada dalam masa transisi menuju kepada kedewasaan hidup.

Permasalahan   dalam  diri kaum  muda  sendiri  umumnya  berpangkal   pada penampilan psikis dan  fisik mereka  yang  masih  labil dan  terbuka  terhadap pengaruh dari luar, yang diserap lewat media komunikasi, atau pergaulan seperti misalnya kenaifan seksualitas, upaya aktualisasi diri yang kurang mendapat tanggapan dan pengakuan; adalah konflik sekitar kebebasan mereka. Ada banyak hal dapat menjadi penyebab bagi terhambatnya perkembangan seorang remaja, di antaranya:  kurang  menyadari  potensi  yang  dimiliki, pendidikan  yang  tidak tuntas  (misalnya: remaja  di daerah  pedesaan),  perasaan  tidak berpunya atau minder, perngaruh pernikahan  dini, dan kurangnya kesadaran serta upaya untuk mengubah tradisi. Banyak pula yang mengalami  masalah lingkungan  misalnya: kesulitan  sekitar  perumahan, lingkungan  belajar, dan  pergaulan bagi  mereka yang datang dari desa ke kota besar. Semuanya itu mengakibatkan kaum muda menjadi:  gelisah, bingung, tidak pasti, dan  masa  depan  suram  (Sugiyo, 2001). Jelas dari permasalahan yang  diungkap  di atas,  dapat  menimbulkan masalah

ketidakadilan   di  antara   kaum  muda,   yang  dapat   menyebabkan  timbulnya keresahan,  kebingungan, dan ketidakadilan yang perlu diatasi dalam perspektif Kristiani.

 

 

5. Peran Keluarga

 

Bagaimana mengatasi masalah remaja yang terpapar  di atas?

 

Keluarga adalah  lembaga/unit kemasyarakatan yang terkecil dan yang terpenting di dunia. Disebut demikian karena keluarga menentukan tinggi rendahnya mutu  kehidupan  masyarakat  dan negara  termasuk  gereja. Kekuatan gereja  bahkan  suatu  bangsa  sangat  ditentukan oleh  unit-unit  keluarga  yang menjadi warganya. Kalau unit-unit keluarga itu terdiri dari keluarga-keluarga yang sehat (jasmani dan rohani) dan bertanggung-jawab, maka bisa dipastikan bahwa gereja bahkan negara akan menjadi lembaga yang sehat dan kuat pula. Sebaliknya, jikalau keluarga-keluarga  yang  menjadi  warga  gereja  itu lemah,  jorok, penuh dengan ketidakadilan  dan  jauh dari hidup  yang damai  maka dapat  dipastikan bahwa gereja maupun negara itu akan lemah, jorok, dan kacau (Krisetya, 1999).

Dari ungkapan di atas dapat  diringkaskan bahwa  pribadi dan keluarga yang kuat adalah keluarga yang bersedia berdamai  dengan Allah sumber perdamaian, dan berdamai dengan sesama terutama dengan para anggota keluarga.

 

 

C. Penjelasan Bahan Alkitab

 

1. Yesaya 57:21

Bagian Alkitab ini berisi tentang kata-kata penghiburan dari Nabi Yesaya untuk umat Tuhan. Dia mengungkapkan bahwa tidak akan ada damai apabila umat Tuhan tetap melakukan ketidakadilan atau kefasikan. Tiada damai bagi orang- orang  fasik itu. Jelas dari ayat  ini bahwa  realita damai  sejahtera  bukanlah hal  yang  tanpa  syarat.  Keadilan rupanya  merupakan   langkah  awal  untuk memasuki suasana damai sejahtera. Dengan demikian masalah kefasikan atau ketidakadilan  perlu  dipecahkan  lebih  dahulu  sebelum  damai  sejahtera  itu dapat  dialami. Ketidakadilan memang pada hakikatnya sangat  mengganggu, meresahkan dan mengelisahkan.  Hal ini dialami oleh Nabi Yesaya di tengah- tengah bangsa  yang  dikasihinya. Oleh karena  itu, Nabi Yesaya menyerukan dan mengusahakan agar masalah ketidakadilan lebih dulu digarap dan diatasi sehingga damai sejahtera itu pada akhirnya menjadi realita komunitas.


Dari teks  ini kita mendapat pengajaran bahwa  untuk  mengalami  suasana damai  sejahtera  baik dalam  keluarga,  dalam  komunitas  bahkan  di tengah- tengah bangsa, maka lebih dahulu perlu diusahakan lebih dahulu pemecahan ketidakadilan. Hasil dari usaha tersebut maka akan tercipta suasana yang adil dan damai yang menjadi dambaan dari setiap insan dimanapun dia berada.

 

2. Matius 5:9

Teks  ini adalah  khotbah  Tuhan Yesus di bukit  :Berbahagialah orang  yang membawa   damai. Orang   yang   membawa   damai   adalah   orang   yang menciptakan perdamaian atau  yang  menyalurkan  damai  yang  berasal  dari Tuhan Sang Pendamai Agung kepada semua orang. Jadi, orang tersebut lebih dahulu menerima damai dan selanjutnya menyampaikan kepada semua orang sebagai kesaksiannya. Mereka inilah yang akan disebut  anak-anak Allah, yaitu keluarga besar Kerajaan Allah. Itulah sebabnya  mereka juga disebut  sebagai orang  yang  berbahagia karena  mereka  hidup  secara  adil, tanpa  masalah, permusuhan,  dan  tanpa   konflik.  Jadi  dalam  ajaran  Tuhan  Yesus  tentang Kerajaan Allah, damai  merupakan  suatu  kondisi yang tidak boleh  tidak ada dalam  Kerajaan Allah. Tanpa keadilan  dan  perdamaian,  Kerajaan Allah tidak dapat dihadirkan dan tanda-tanda Kerajaan Allah tidak dapat dirasakan.