Kompetensi Dasar:
1.2
Menghayati nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan
keluarga dan pernikahan.
2.2 Mewujudkan nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan
keluarga dan pernikahan.
3.2 Menganalisis pentingnya nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan keluarga dan pernikahan.
4.2 Membuat karya yang berkaitan dengan nilai-nilai Kristiani dalam
kehidupan keluarga dan pernikahan.
Memaknai arti kehadiran anak dalam keluarga.
Menjelaskan peran orang tua dalam kehidupan
keluarga.
Menghayati tanggung jawab
anak kepada
orang tua melalui artikel yang dibaca.
Membuat komitmen untuk menghargai orang tua.
Dalam pelajaran-pelajaran sebelumnya
sudah
membahas peran keluarga,
sekolah, dan gereja dalam proses pembentukan dan pertumbuhan
anak. Lembaga dalam masyarakat
ini memberikan
pengaruh dan dorongan yang positif dalam kehidupan remaja sesuai dengan nilai kristiani
dan juga norma-norma sosial yang berlaku dalam masyarakat. Pelajaran
ini akan membahas mengenai tanggung jawab dari anak terhadap keluarga sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan.
B. Uraian Materi
1. Anak dalam Keluarga
Dalam pernikahan, anak merupakan tanda
utama dari cinta kasih yang saling berbalas dari suami-istri.
Anak merupakan anugerah utama bagi keluarga Kristen. Hal ini merupakan
penyempurnaan dari Trinitas Segitiga Cinta yang ada dalam lingkaran keluarga yang intim. Trinitas segitiga
cinta adalah
adanya
kaitan erat tiga elemen dalam keluarga yang diikat karena cinta kasih, yaitu bapak, ibu, dan anak. Anak-anak akan dirawat dan dipenuhi kebutuhannya agar dapat tumbuh dan
berkembang menjadi anak yang dewasa dalam iman kepada Tuhan.
Orang tua melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai ayah dan ibu sejak dalam kandungan sampai anaknya menikah. Hal ini membutuhkan kesabaran, kerja keras dan rasa tanggung jawab yang besar, karena kompleksitas kebutuhan anak yang harus dipenuhi. Tanggung jawab dalam keluarga tidak hanya berasal dari orang tua kepada anak-anak, namun juga harus ada hubungan timbal balik tanggung jawab anak kepada orang tua yang harus dilakukan dengan penuh cinta kasih.
2. Tanggung Jawab Anak
Sikap hormat kepada orang tua merupakan salah
satu tugas moral yang harus dilakukan oleh anak sepanjang hidupnya.
Sejak masa
Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru, sikap ini ditekankan
dalam Alkitab sebagai
perintah
yang harus dilakukan. Hubungan orang tua dan anak yang paling ideal dapat kita lihat pelajari dari kehidupan keluarga Tuhan Yesus (Luk. 2:41-52).
Yang terjadi dalam kehidupan
sekarang
adalah
banyak anak yang membangkang kepada
orang tua,
karena anak menganggap sikap orang
tua yang ketinggalan zaman, tidak banyak tahu
apa-apa. Biasanya cuma melarang,
menyuruh, menasihati sehingga banyak anak yang cenderung menjauhkan diri,
seolah-olah membuat tembok
pemisah antara mereka. Anak merasa ingin bebas, ingin
mempunyai
pandangan sendiri, sehingga kurang senang
pada
otoritas atau
kekuasaan orang
tua
yang mengatur. Keinginan untuk bebas ini
dapat menimbulkan kejengkelan
dan salah paham
apabila antara
orang tua dan anak tidak bisa memahami jalan pikiran masing-masing. Memang
masa yang paling sulit seringkali adalah masa remaja. Di satu sisi, remaja mengalami perkembangan
yang seringkali tidak
bersesuaian dengan pendapat
dan
harapan
orang
tua dan lingkungan. Oleh karena itu, rupanya perlu ada pemahaman tentang
perkembangan
masa remaja sehingga dapat menghindari konflik yang seharusnya tidak terjadi. Terdapat empat aspek
yang perlu dipahami,
yaitu: perkembangan kognitif, moral-etika, ego, dan iman.
a. Perkembangan kognitif
Pada usia ini remaja memasuki tahapan kematangan intelek. Remaja mampu berpikir jauh melebihi dunia nyata
dan
keyakinan sendiri, yaitu memasuki dunia ide-ide. Remaja bisa memecahkan masalah secara sistematis, tidak
hanya meniru orang
lain. Remaja bisa berpikir reflektif, mengevaluasi pemikiran, melakukan imajinasi ideal, dan berpikir abstrak.
b. Perkembangan
moral-etika
Pada usia ini, penekanannya adalah siapa yang memegang kekuasaan,
mereka perlu
dihormati.
Remaja mulai senang menegakkan hukum dan disiplin, gemar memperhatikan kewajiban
yang harus dilakukan dan memperhatikan tata kehidupan sosial serta kepentingan
keamanan diri. Remaja menghormati orang yang memelihara aturan masyarakat.
c. Perkembangan
ego
Remaja berada dalam situasi di mana di satu sisi ingin memiliki identitas pribadi, namun di sisi lain ingin menyisikan rasa kekaburan identitas. Remaja mulai
belajar memberikan
loyalitas terhadap suatu kelompok yang menjadi
bagian identitas (kelompok teman, ideologi, dan kekristenan yang dianut). Adakalanya
remaja juga mengevaluasi identitas yang dianggap
kuno untuk dipikir ulang.
Identitas meliputi
tiga
konsep
diri, yaitu seksual,
pekerjaan/panggilan dan sosial. Remaja ingin tahu siapa dirinya dan ke mana hidup
diarahkan, sehingga mereka menyenangi identitas
diri yang unik. Remaja sering mengalami konflik identitas, karena ada jarak antara
siapa diri yang sebenarnya dan keinginan menjadi pribadi ideal.
d. Perkembangan iman
Pada usia ini, remaja membentuk sikap terhadap hidup melalui apa yang dipercayai oleh keluarga sendiri menuju
pandangan di luar diri dan keluarga.
Seringkali bagi
remaja, Allah adalah pribadi
yang paling berperan dalam hidupnya. Allah menjadi sahabat yang paling karib dan memahami kehidupan
remaja. Remaja memiliki komitmen dan loyalitas yang sangat dalam
terhadap Allah
sebagai tempat menimba
seluruh
kepercayaan. Seringkali Allah
juga dipandang sebagai ‘Allah kelompok’ atau ‘Allah kolektif ’.
Dengan pemahaman ini, orang tua memahami bahwa keinginan untuk bebas dan
berdiri sendiri merupakan
bagian dari pertumbuhan.
Seorang anak
tidak akan menjadi dewasa selama
ia masih bergantung pada pikiran orang tuanya. Tetapi di pihak lain, anak juga harus
memaklumi bahwa pikirannya keluar dari kepala yang belum banyak pengalaman. Memang seorang
anak (remaja) sudah bisa menganalisis suatu masalah secara logis, tetapi
dengan tingkat
kognitif yang belum
matang, seorang anak
belum bisa memperhitungkan dampak dan konsekuensinya. Oleh karenanya, pikiran seorang anak
perlu diimbangi dengan pikiran orang tua.
Ketegangan antara anak dengan orang tua juga bisa dihindari kalau hubungan
antara keduanya
bersifat terbuka. Terkadang seorang anak
berpikir untuk lebih mudah bercakap-cakap dengan kawan sebaya, ketimbang dengan orang tua. Padahal, orang tua sebetulnya ingin mengobrol dengan anak mereka yang remaja secara intim.
Alkitab mengajarkan bahwa seorang anak harus menghormati
orang tua. Hal ini bukan berarti bahwa seorang anak tidak berani bersanda gurau dengan orang tua. Menghormati bukan berarti manggut-manggut, padahal muka cemberut
dan hati tidak ikhlas.
3. Taat Pada Perintah
Tuhan: Menghormati Orang Tua
Salah satu dari Sepuluh
Hukum Tuhan dalam kitab Keluaran 20:1-17
adalah “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut
umurmu di tanah yang diberikan
Tuhan, Allahmu, kepadamu.” (Kel. 20:12). Yang dimaksud
dengan “hormat” adalah
a. Hormat berarti bersikap
santun dan patuh
terhadap orang
tua. Di dalam hukum Taurat tertera perintah yang mengharuskan orang Israel untuk
menjatuhkan sanksi berat, yaitu kematian kepada
anak yang mengutuki orang tuanya, “Apabila ada seseorang
yang mengutuki ayahnya atau ibunya, pastilah ia
dihukum mati; ia telah mengutuki
ayahnya
atau ibunya, maka darahnya tertimpa kepadanya sendiri” (Im. 20:9).
b. Hormat berarti bertanggung
jawab memelihara kelangsungan hidup orang tua. Tuhan Yesus menegur orang Yahudi yang menyelewengkan perintah Tuhan akan persembahan atas dasar ketidakrelaan memenuhi kebutuhan
orang tua (Mat. 15:3-6). Juga,
sebelum Tuhan Yesus mati di kayu salib, Ia meminta Yohanes untuk memelihara
Maria, ibu-Nya (Yoh. 19:26-27).
Semua ini memperlihatkan
bahwa Tuhan menginginkan anak
untuk bertanggung
jawab memelihara
kelangsungan hidup orang tua masing-masing.
c. Hormat berarti menghargai dan mengakui kewibawaan orang
tua,
yaitu dengan mengakui bahwa orang
tua ditugaskan
oleh Tuhan untuk
menjadi pendidik anak. Memahami
aspirasi orang tua, melihat motivasi positif di belakang nasihat dan larangan mereka, memaklumi kelemahan mereka, serta mengakui keunggulan mereka. Singkatnya, menghargai usaha orang tua untuk mengantar anak ke gerbang kedewasaan, sampai
orang tua melepas anaknya untuk berjalan sendiri seutuhnya.
Sikap hormat dan
pengertian kepada orang tua dengan landasan cinta kasih dari Kristus, akan membangun sebuah keluarga yang harmonis dan bahagia. Tidak ada
orang tua yang mau mencelakakan
anaknya sendiri, setiap orang tua pasti ingin melihat anaknya berhasil, sukses dan hidup bahagia, serta bertumbuh besar menjadi anak-anak yang takut akan Tuhan dan berhasil dalam hidupnya.
C. Penjelasan Bahan Alkitab
1. Kejadian 4:1-16
Kain dan Habel adalah
anak-anak Adam dan Hawa. Kain bekerja sebagai petani, dan
Habel menjadi gembala.
Pada waktu mereka memberikan
persembahan kepada Tuhan, Kain memberikan hasil buminya, sedangkan
Habel memberikan ternaknya. Persembahan Kain ditolak, sedangkan persembahan Habel diterima. Hal ini disebabkan karena
Habel memberikan
yang terbaik, sedangkan Kain tidak. Akibatnya, Kain marah, ia mengabaikan teguran Tuhan, serta membunuh Habel, adiknya. Kain seharusnya melakukan intropeksi diri
kemudian memperbaiki hal-hal
dalam hidup
dan
persembahannya,
namun tidak
demikian. Ia marah karena iri hati,
sehingga mengorbankan
nyawa adiknya. Dosa iri hati adalah dosa yang kelihatan remeh, tetapi sangat berbahaya karena dapat mengakibatkan dosa-dosa yang lain. Akibatnya, Kain dihukum Tuhan dengan kutukan.
Hubungan bersaudara antara Kain dan Habel yang awalnya baik dan penuh kasih, hilang karena sikap iri hati yang membawa akibat yang buruk. Hal ini perlu dihindari dalam hubungan antara saudara
yang memiliki kontak intim
karena berasal dari ayah dan ibu yang sama.
2. Keluaran 20:12
Ayah, ibu,
nenek, dan kakek, mereka adalah
orang tua yang harusnya dikasihi
dan dihormati terlepas dari kekurangan-kekurangan mereka. Di atas segalanya, kasih merupakan inti dasar kekristenan yang harus berlaku unconditional atau tanpa syarat. Hukum dalam Keluaran 20:12 ini mencakup semua tindakan
baik dukungan material, hormat, dan
ketaatan kepada orang tua. Perintah ini
mencegah kata-kata kasar dan dapat
menyakiti hati orang tua. Sikap seorang
anak yang menaruh hormat
kepada
orang
tuanya, dampaknya bukan hanya diterima dari orang tua, melainkan dari Tuhan sendiri yang akan memberkati anak-anak. Setiap anak yang sungguh-sungguh menghormati orang
tuanya akan hidup diberkati Tuhan secara jasmani
dan rohani. Anak-anak sebaiknya jangan berlaku kurang ajar, jangan pernah
hitung-hitungan ketika memberi sesuatu
kepada
orang tua,
karena Tuhan sendiri yang
akan membalas dan memberi berkat kembali dengan limpahnya. Anak-anak yang menghormati orang tuanya akan mengalami penggenapan akan janji Tuhan, yaitu umur panjang dan pemeliharaan Tuhan yang tak berkesudahan.
3. Lukas 2:41-52
Teks dalam Lukas ini mengisahkan keluarga
Tuhan Yesus yang
pergi
ke Yerusalem dalam rangka merayakan
hari raya
di
bait
Allah. Tuhan Yesus menghormati kedua
orang tuanya dengan cara
mengikuti
perintah
orang tua untuk hadir dalam perayaan di bait Allah. Walaupun
masih belia (berumur
12 tahun),
Ia telah ditanamkan sikap takut akan Allah yang berbuah dalam perilakuNya sejak dini. Akibatnya,
Tuhan Yesus bertumbuh dan semakin bertambah hikmatNya, sehingga semakin dikasihi oleh Allah maupun manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar