Kamis, 30 September 2021

TANGGUNG JAWABKU TERHADAP KELUARGAKU BahanAlkitab: Lukas2:41-52, Keluaran 20:12, Kejadian 4:1-16

 



  

Kompetensi Dasar:

 

1.2   Menghayati nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan  keluarga dan pernikahan.


2.2   Mewujudkan nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan  keluarga dan pernikahan.

3.2   Menganalisis pentingnya nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan  keluarga dan pernikahan.

4.2   Membuat karya yang berkaitan dengan nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan keluarga dan pernikahan.

 

                           Indikator:

 

   Memaknai arti kehadiran anak dalam keluarga.


   Menjelaskan peran orang tua dalam kehidupan  keluarga.

   Menghayati  tanggung jawab  anak  kepada  orang  tua  melalui artikel yang dibaca.

  Membuat komitmen untuk menghargai orang tua.

 

            A. Pengantar

                                              

 

Dalam  pelajaran-pelajaran sebelumnya  sudah  membahas peran  keluarga, sekolah, dan gereja dalam proses pembentukan dan pertumbuhan anak. Lembaga dalam masyarakat  ini memberikan  pengaruh dan dorongan yang positif dalam kehidupan remaja sesuai dengan nilai kristiani dan juga norma-norma sosial yang berlaku  dalam  masyarakat.  Pelajaran  ini akan membahas mengenai tanggung jawab  dari anak  terhadap keluarga  sebagai  bentuk  ungkapan syukur kepada Tuhan.


B. Uraian Materi

 

1. Anak dalam Keluarga

 

Dalam pernikahan, anak merupakan  tanda utama dari cinta kasih yang saling berbalas dari suami-istri. Anak merupakan  anugerah utama bagi keluarga Kristen. Hal ini merupakan  penyempurnaan dari Trinitas Segitiga Cinta yang ada dalam lingkaran keluarga yang intim. Trinitas segitiga  cinta adalah  adanya  kaitan erat tiga elemen dalam keluarga yang diikat karena cinta kasih, yaitu bapak, ibu, dan anak. Anak-anak akan dirawat dan dipenuhi  kebutuhannya agar dapat  tumbuh dan berkembang menjadi anak yang dewasa dalam iman kepada Tuhan.

Orang tua melaksanakan  tugas dan kewajibannya sebagai ayah dan ibu sejak dalam  kandungan sampai  anaknya  menikah. Hal ini membutuhkan kesabaran, kerja keras dan rasa tanggung jawab yang besar, karena kompleksitas kebutuhan anak yang harus dipenuhi. Tanggung jawab dalam keluarga tidak hanya berasal dari orang tua kepada  anak-anak, namun  juga harus ada hubungan timbal balik tanggung jawab anak kepada  orang  tua  yang harus  dilakukan dengan penuh cinta kasih. 

  Meskipun demikian, jangan menganggap suami-istri Kristen yang tidak memiliki anak adalah  orang  yang berdosa  dan  tidak diberkati. Ingatlah, Tuhan Yesus dan rasul Paulus juga tidak menikah atau berkeluarga. Tetapi hidup mereka justru  diberikan  untuk  kemuliaan  Tuhan dan  melayani  sesama.  Hidup  tanpa pasangan dan tidak mempunyai  anak secara kristiani bisa menjadi  hidup  yang indah, keberkatan, dan berguna bagi sesama.


2. Tanggung Jawab Anak

 

Sikap hormat kepada orang tua merupakan  salah satu tugas moral yang harus dilakukan oleh  anak sepanjang hidupnya.  Sejak masa  Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru, sikap ini ditekankan  dalam Alkitab sebagai  perintah  yang harus dilakukan. Hubungan orang tua dan anak yang paling ideal dapat kita lihat pelajari dari kehidupan  keluarga Tuhan Yesus (Luk. 2:41-52).

Yang terjadi dalam  kehidupan  sekarang  adalah  banyak  anak yang membangkang kepada  orang  tua,  karena  anak  menganggap sikap orang  tua yang ketinggalan  zaman, tidak banyak tahu  apa-apa.  Biasanya cuma melarang, menyuruh,  menasihati  sehingga  banyak anak yang cenderung menjauhkan diri, seolah-olah membuat tembok pemisah antara mereka. Anak merasa ingin bebas, ingin  mempunyai  pandangan sendiri,  sehingga  kurang  senang  pada  otoritas atau  kekuasaan  orang  tua  yang  mengatur. Keinginan  untuk  bebas  ini dapat menimbulkan kejengkelan  dan salah paham  apabila antara  orang tua dan anak tidak bisa memahami jalan pikiran masing-masing. Memang  masa yang paling sulit seringkali adalah masa remaja. Di satu sisi, remaja mengalami perkembangan yang  seringkali  tidak  bersesuaian dengan  pendapat  dan  harapan   orang  tua dan lingkungan. Oleh karena itu, rupanya perlu ada pemahaman tentang perkembangan masa remaja sehingga dapat menghindari konflik yang seharusnya tidak terjadi. Terdapat empat  aspek yang perlu dipahami, yaitu: perkembangan kognitif, moral-etika, ego, dan iman.

a.  Perkembangan kognitif

Pada usia ini remaja memasuki tahapan kematangan intelek. Remaja mampu berpikir jauh  melebihi  dunia  nyata  dan  keyakinan  sendiri, yaitu memasuki dunia ide-ide. Remaja bisa memecahkan masalah secara sistematis, tidak hanya meniru  orang  lain. Remaja bisa  berpikir  reflektif,  mengevaluasi   pemikiran, melakukan imajinasi ideal, dan berpikir abstrak.

b.  Perkembangan moral-etika

Pada usia ini, penekanannya adalah siapa yang memegang kekuasaan, mereka perlu  dihormati.  Remaja  mulai  senang   menegakkan  hukum  dan  disiplin, gemar memperhatikan kewajiban yang harus dilakukan dan memperhatikan tata kehidupan  sosial serta kepentingan keamanan  diri. Remaja menghormati orang yang memelihara aturan masyarakat.

c.  Perkembangan ego

Remaja berada dalam situasi di mana di satu sisi ingin memiliki identitas pribadi, namun  di sisi lain ingin menyisikan rasa kekaburan  identitas. Remaja mulai belajar memberikan  loyalitas terhadap suatu kelompok yang menjadi bagian identitas (kelompok teman, ideologi, dan kekristenan yang dianut). Adakalanya


remaja juga mengevaluasi  identitas yang dianggap kuno untuk dipikir ulang. Identitas  meliputi  tiga  konsep  diri, yaitu  seksual,  pekerjaan/panggilan dan sosial. Remaja ingin tahu siapa dirinya dan ke mana hidup diarahkan, sehingga mereka menyenangi identitas diri yang unik. Remaja sering mengalami konflik identitas, karena ada jarak antara  siapa diri yang sebenarnya dan keinginan menjadi pribadi ideal.

d. Perkembangan iman

Pada  usia ini, remaja  membentuk sikap terhadap hidup  melalui  apa  yang dipercayai oleh keluarga sendiri menuju pandangan di luar diri dan keluarga. Seringkali bagi  remaja,  Allah adalah  pribadi  yang  paling  berperan  dalam hidupnya. Allah menjadi sahabat  yang paling karib dan memahami kehidupan remaja. Remaja memiliki komitmen dan loyalitas yang sangat dalam terhadap Allah sebagai  tempat menimba  seluruh  kepercayaan.  Seringkali Allah juga dipandang sebagai  Allah kelompok atau  Allah kolektif .

 

Dengan pemahaman ini, orang tua memahami bahwa keinginan untuk bebas dan  berdiri sendiri merupakan  bagian  dari pertumbuhan. Seorang  anak  tidak akan menjadi  dewasa  selama ia masih bergantung pada  pikiran orang  tuanya. Tetapi di pihak lain, anak juga harus memaklumi  bahwa  pikirannya keluar dari kepala yang belum banyak pengalaman. Memang seorang  anak (remaja) sudah bisa  menganalisis  suatu  masalah  secara  logis, tetapi  dengan tingkat  kognitif yang belum  matang, seorang  anak belum  bisa memperhitungkan dampak  dan konsekuensinya.  Oleh karenanya, pikiran seorang  anak perlu diimbangi dengan pikiran orang tua.

Ketegangan antara anak dengan orang tua juga bisa dihindari kalau hubungan antara  keduanya  bersifat terbuka. Terkadang seorang  anak berpikir untuk lebih mudah  bercakap-cakap  dengan kawan  sebaya,  ketimbang  dengan orang  tua. Padahal, orang tua sebetulnya ingin mengobrol dengan anak mereka yang remaja secara  intim.  Alkitab mengajarkan  bahwa  seorang  anak  harus  menghormati orang tua. Hal ini bukan berarti bahwa seorang anak tidak berani bersanda gurau dengan orang tua. Menghormati bukan berarti manggut-manggut, padahal muka cemberut dan hati tidak ikhlas.

 

 

3. Taat Pada Perintah Tuhan: Menghormati Orang Tua

 

Salah satu dari Sepuluh  Hukum Tuhan dalam kitab Keluaran 20:1-17 adalah “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu  di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu. (Kel. 20:12). Yang dimaksud dengan hormat adalah


a.  Hormat  berarti  bersikap  santun  dan  patuh  terhadap orang  tua.  Di dalam hukum Taurat tertera  perintah  yang mengharuskan orang Israel untuk menjatuhkan sanksi berat, yaitu kematian kepada anak yang mengutuki orang tuanya, Apabila ada seseorang  yang mengutuki ayahnya atau ibunya, pastilah ia dihukum  mati; ia telah  mengutuki  ayahnya  atau  ibunya, maka darahnya tertimpa kepadanya sendiri (Im. 20:9).

b.  Hormat berarti  bertanggung jawab memelihara  kelangsungan hidup  orang tua. Tuhan Yesus menegur orang Yahudi yang menyelewengkan perintah Tuhan akan persembahan atas dasar ketidakrelaan memenuhi kebutuhan orang tua (Mat. 15:3-6). Juga, sebelum Tuhan Yesus mati di kayu salib, Ia meminta Yohanes untuk memelihara  Maria, ibu-Nya (Yoh. 19:26-27). Semua ini memperlihatkan bahwa  Tuhan  menginginkan anak  untuk  bertanggung jawab  memelihara kelangsungan hidup orang tua masing-masing.

c.  Hormat  berarti  menghargai  dan  mengakui   kewibawaan   orang  tua,  yaitu dengan mengakui  bahwa  orang  tua  ditugaskan  oleh Tuhan untuk  menjadi pendidik anak. Memahami aspirasi orang tua, melihat motivasi positif di belakang nasihat dan larangan mereka, memaklumi kelemahan  mereka, serta mengakui keunggulan mereka. Singkatnya, menghargai usaha orang tua untuk mengantar anak ke gerbang kedewasaan,  sampai orang tua melepas anaknya untuk berjalan sendiri seutuhnya.

 

Sikap hormat  dan pengertian kepada  orang tua dengan landasan  cinta kasih dari Kristus, akan membangun sebuah keluarga yang harmonis dan bahagia. Tidak ada orang  tua yang mau mencelakakan  anaknya sendiri, setiap orang  tua pasti ingin melihat anaknya berhasil, sukses dan hidup bahagia, serta bertumbuh besar menjadi anak-anak yang takut akan Tuhan dan berhasil dalam hidupnya.

 

 

C. Penjelasan Bahan Alkitab

 

1. Kejadian 4:1-16

Kain dan Habel adalah anak-anak Adam dan Hawa. Kain bekerja sebagai petani, dan Habel menjadi gembala.  Pada waktu mereka memberikan  persembahan kepada  Tuhan, Kain memberikan  hasil buminya,  sedangkan  Habel memberikan  ternaknya. Persembahan Kain ditolak, sedangkan persembahan Habel diterima. Hal ini disebabkan  karena  Habel memberikan  yang terbaik, sedangkan Kain tidak. Akibatnya, Kain marah, ia mengabaikan teguran Tuhan, serta  membunuh  Habel,  adiknya.  Kain  seharusnya   melakukan   intropeksi diri  kemudian   memperbaiki   hal-hal  dalam   hidup   dan   persembahannya,

namun  tidak  demikian.  Ia marah  karena  iri hati,  sehingga   mengorbankan nyawa adiknya. Dosa iri hati adalah dosa yang kelihatan remeh, tetapi sangat berbahaya karena dapat  mengakibatkan dosa-dosa  yang lain. Akibatnya, Kain dihukum Tuhan dengan kutukan.

Hubungan  bersaudara antara  Kain dan Habel yang awalnya baik dan penuh kasih, hilang karena sikap iri hati yang membawa akibat yang buruk. Hal ini perlu dihindari dalam hubungan antara  saudara  yang memiliki kontak intim karena berasal dari ayah dan ibu yang sama.

 

2. Keluaran 20:12

Ayah, ibu, nenek, dan kakek, mereka adalah orang tua yang harusnya dikasihi dan dihormati terlepas dari kekurangan-kekurangan mereka. Di atas segalanya, kasih merupakan  inti dasar kekristenan yang harus berlaku unconditional atau tanpa  syarat.  Hukum dalam  Keluaran 20:12 ini mencakup  semua  tindakan baik dukungan material, hormat, dan ketaatan  kepada orang tua. Perintah ini mencegah kata-kata kasar dan dapat  menyakiti hati orang tua. Sikap seorang anak yang menaruh  hormat  kepada  orang  tuanya, dampaknya  bukan hanya diterima dari orang tua, melainkan dari Tuhan sendiri yang akan memberkati anak-anak. Setiap anak yang sungguh-sungguh menghormati orang  tuanya akan hidup diberkati Tuhan secara jasmani dan rohani. Anak-anak sebaiknya jangan  berlaku kurang ajar, jangan  pernah  hitung-hitungan ketika memberi sesuatu  kepada  orang  tua, karena Tuhan sendiri yang  akan membalas  dan memberi  berkat  kembali dengan limpahnya. Anak-anak yang menghormati orang  tuanya  akan mengalami  penggenapan akan janji Tuhan, yaitu umur panjang dan pemeliharaan Tuhan yang tak berkesudahan.

 

3. Lukas 2:41-52

Teks  dalam  Lukas  ini mengisahkan  keluarga  Tuhan Yesus  yang  pergi  ke Yerusalem  dalam  rangka  merayakan  hari  raya  di  bait  Allah. Tuhan Yesus menghormati kedua  orang  tuanya  dengan cara  mengikuti  perintah  orang tua untuk hadir dalam perayaan di bait Allah. Walaupun masih belia (berumur

12 tahun), Ia telah  ditanamkan sikap takut  akan Allah yang berbuah dalam perilakuNya sejak dini. Akibatnya, Tuhan Yesus bertumbuh dan semakin bertambah hikmatNya, sehingga semakin dikasihi oleh Allah maupun manusia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar